Senin, 28 Maret 2011

Kisah cinta teladan 1

by : Irwiyana Yüñhä ( Cyber Tarbiyah ( FULL ) )


Para Ulama Salaf memahami standar kufu dalam menikahkan putri mereka adalah agama. Mereka tidak melihat harta dalam menikahkan putra-putrinnya tapi melihat kualitas iman,taqwa dan akhlak.Tak heran jika mereka lebih memilh yang miskin namun baik agamannya dari pada yang kaya namun kurang agamanya.
Kisah Said bin Musayyab dalam menikahkan putrinya adalah kisah keteladanan yang sangat indah penuh hikmah . Beliau memilki seorang anak putri yang sangat terkenal kecantikan , kecerdasan dan kesalehannya. Kabar itu sampai ketelinga Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan putra mahkotanya yaitu Walid bin Abdul Malik di Damaskus.Khalifah datang ketempat Said bin Musayyab untuk meminang putrinya itu, untuk putra mahkotanya. Namun tampa keraguan sedikitpun Said menolak pinangan itu,meskipun ia harus menghadapi resiko yang tidak ringan.Karena menolak pinagan Khalifah ia sampai dicambuk sebanyak seratus kali.
Tak lama setelah kejadian itu,ia kembali mengajar di masjid nabawi.ia adalah seorang ulama dan maha guru yang sangat perhatian dan menyayangi murid-muridnya,ia selalu menayakan keadaan mereka, dan jika ada yang berhalangan hadir ia selalu menayakan,kenapa.Suatu kali ada seorang muridnya bernama Abdullahbin Abi Wada’ah tidak menghadiri pengajian. Ketika ditanyakan pada murid yang lainya,tidak ada yang tahu sebabnya. Beberapa hari berikutnya, Abdullah bin Abi Wada’ah hadir,Imam Said bin Musayyab langsung bertanya,
“Abdullah,kenapa kemarin tidak datang ?”
“Maaf Imam , kemarin istri saya meninggal dunia dan saya tidak sempat minta izin dan memberitahukan kabar ini pada Imam.”
“ Apakah kau sudah menikah lagi?’
“Semoga Allah merahmati Imam,siapakah yang sudi menikahkan putrinya denganku.Aku ini miskin tidak memiliki apa-apa kecuali hanya dua atau tiga dirham saja?”
“Akulah yang akan menikahkan kamu.”
“Banarkah?”
“ya,benar.Aku akan menikahkan kamu dengan putriku,jika kau mau.”
Dan jadilah saat itu juga Imam Said bin Musayyab menikahkan putrinya yang terkenal cantiknya itu dengan Abdullah bin Wada’ah,salah seorang muridnya yang miskin,dengan mahar hanya dua dirham.
Begitulah imam Said bin Musayyab lebih memilih laki-laki yang miskin namun ia tahu persis ketakwaan dan kedalaman ilmu agamanya. Ia tidak memilih putra raja yang kaya dan memilki kedudukan yang tinggi.ia sangat percaya bahwa putrinya akan selamat didunia dan diakhirat jika berda dalam bimbingan suami yang bertakwa. Betapa hati Imam Said takkaa menikahkan putrinya itu dapat dilihat dari cerita Abdullah bin Abi Wada’ah,

yakinlah, takkan sia-sia

Cahaya Hippmash 29 Maret jam 9:06 Balas • Laporkan

Jadikanlah harapan orang lain
sebagai perintah bagi Anda.

Jika Anda bekerja keras dalam kejujuran
untuk memenuhi harapan orang lain,
...yang bahkan belum disampaikannya kepada Anda,
Anda akan mendapatkan bahkan yang
tidak Anda harapkan.

Maka janganlah hitung-hitungan dan malas.

Lakukanlah kebaikan walau belum jelas bayarannya,
dan bersegeralah walau belum tentu cepat sampai.

Mario Teguh

Minggu, 27 Maret 2011

Jadikan Hidup Lebih Bermakna

by : Alie Moesthafa Tanjuang ( Zone_JPRMI )
Kenapa ibadah terasa berat?



Ketika Allah memerintahkan kita untuk makan dan minum, mengapa kita melakukan dengan senang hati?

Ketika Allah memerintahkan untuk menikah, mengapa kita bersegera menyambutnya?

Ketika Allah memerintahkan untuk mencari harta dunia, mengapa kita kerjakan dengan semangat ?

Karena kita menganggap bahwa itu adalah suatu kebutuhan.



Ketika Allah memerintahkan kita untuk shalat, mengapa kita menunda-nunda?

Ketika Allah memerintahkan kita untuk puasa, mengapa enggan rasanya?

Ketika Allah memerintahkan kita untuk membayar zakat, hati terasa berat?

Ketika Allah memerintahkan kita untuk berjihad, mengapa kita merasa malas?

Karena kita menganggap bahwa itu adalah suatu kewajiban



Mengapa kita membeda-bedakan, bukankah sama-sama perintah Allah? Atau karena kita hanya menuruti hawa nafsu kita?



"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." QS.Al Jatsiyah:18



"Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi." Qs. Al Furqan: 43-44)



Andai kita bisa menjadikan ibadah menjadi suatu kebutuhan tentu semua akan terasa ringan. Akan hadir kerinduan untuk selalu melakukan kebaikan. Rindu untuk mengerjakannya shalat, puasa, zakat, dakwah, jihad dan yang lainnya dengan sepenuh cinta.



Sudahkan kita menjadikan ibadah menjadi kebutuhan, bukan hanya kewajiban?